MyArticle » Art » Literature » Keyakinan atau Bismillah Dahulu?

Keyakinan atau Bismillah Dahulu?


View PDF | Print View
by: jaturampe
Total views: 364
Word Count: 444
Date: Fri, 25 Feb 2011 Time: 9:03 AM

Pernahkah engkau mendengar, ada Nabi atau wali, bahkan terkadang manusia biasa mampu untuk menaklukkan hukum hukum alam? Apakah ini nyata?jangan jangan hanya hasutan belaka yang terkadang membuat celaka? Oleh ajaran agama kita, kita diharuskan untuk benar benar meyakini sesuatu hal yang bersifat ghaib, misalnya percaya pada Tuhan, malaikat, nabi pula  ghaib lainnya.

Ini menarik, sebab hal tersebut merupakan rukun iman, yang juga merupakan suatu keutamaan. Menjadi hal tak biasa jika saya menceritakan yang pernah saya dengar. Begini kisahnya..

Badri : ” Pak kyai, bagaimana ini..apakah saya harus mengucapkan bismillahirahmannirrahim dahulu ataukah membangun kepercayaan  kepercayaan terlebih dahulu “?

Ustadz: ” Begini dik, segala sesuatu sebelum kita akan melangkah,  seyogyanya mengucapkan bismillah dulu, setelah itu baru tahapan percaya”.

Badri: ” Berarti mengucapkan bismillah dahulu ya pak Ustadz? bismillah yang artinya dengan menyebut asma allah? lalu tapi bagaimana dengan orang yang tidak beragama? lha wong dia sendiri tidak mempercayai adaNya, re..

Ustadz: ” Hmm..begitu ya? weleh weleh, ya ya…begini dik, sesungguhnya baik orang biasa maupun orang atheis itu sedikit banyak mempercayai sesuatu hal yang diluar batas akal maupun kemampuannya, bisa saja berupa percaya hukum hukum alam bisa atau percaya akan kerahmanrahimNya.

Badri: ” Kalau begitu, ya harus percaya dahulu dong pak, percaya ada sesuatu   di luar dirinya meski hal tersebut membuatnya bingung, pusing atau malah rindu.”

Ustadz: ” Ya tetap tidak bisa, pokoknya harus mengucapkan bismillah dahulu..

Badri: ” Percaya dahulu baru bismillah pak Ustadz…”

Ustadz: ” Bismillah duluuuu” (sembari jengkel)

ya…

Tak sengaja, sore itu saya mendengar adanya pertanyaan dari seorang  pemuda kepada salah seorang Ustadz yang juga masih muda, namun, baik si ustadz  maupun Badri adalah karibku. Mendengar pembicaraan mereka, hati dan pikiranku juga berpikir? wah, ini seperti memperebutkan antara telor dengan ayam, atau ayam dengan telur dimana yang dahuluan disebut menjadi sebab awalnya. Walau begitu sesungguhnya ini tak sesederhana seperti yang menampak, apalagi “Keyakinan” menjadi hal yang utama disemua agama.

Aku hanya membayangkan dalam hati, bahwa semua tergantung cara masuknya, jika orang awan seperti saya ini silakan masuk lewat ucapan bismillah dimana mengandung maksud menyerahkan ke Maha Pengasih dan Penyayang untuk mengatur bagaimana baiknya arahan maupun petunjuk Tuhan terlebih dulu, baru kemudian percaya pada bukti buktiNya dengan cara bertahap yakni, Ilmu yakin, ainul yakin kemudian haqqul yakin tapi bagi orang orang khusus, mungkin mereka akan percaya (kadang membabi buta)  akan sifat sifat sempurnaNya meski hal ini masih berbentuk potensial/tidak nampak & terjabarkan tapi yang penting mereka percaya. Sesudah itu  menjadi pola kebiasaan maka Tuhan berkenan diri untuk berkenalan /mengenalkan nama dan sifatNya, kemudian baru  mereka menyebut Bismillahirrahmannirrahim..

Atau adakah pendapat yang lain?

Sumonggo

http://jaturampe.wordpress.com

About the Author

wah, ini seperti memperebutkan antara telor dengan ayam, atau ayam dengan telur dimana yang dahuluan disebut menjadi sebab awalnya. Walau begitu sesungguhnya ini tak sesederhana seperti yang menampak, apalagi “Keyakinan” menjadi hal yang utama disemua agama.



Latest Articles about: Literature


Popular Articles about: Literature




Rating: Not yet rated


??????